KERAK
"Kak, masih lama di dalam?" Tanya Lina, mengulang pertanyaan yang sudah dilontarkan sebelumnya oleh Ibu sekitar lima menit yang lalu.
"Tunggu dulu ya, Lin. Masih kotor banget nih bak mandinya," jawabku dari dalam kamar mandi.
Sudah lama bak mandi ini tak kubersihkan. Pasir-pasir halus berkumpul di dasarnya. Kerak-kerak pun menyebar memenuhi keempat sisinya.
Bak mandi di rumahku tak terlalu besar. Namun, tingginya yang seperut orang dewasa membuatku sulit membersihkan dasarnya. Usai membersihkannya, pinggang terasa pegal. Karena itu lah, aku jarang membersihkannya. Tak tega pula kubiarkan ibu atau adikku yang melakukannya. Karena itu sudah menjadi kewajibanku, mengingat aku satu-satunya laki-laki di rumah ini.
Seluruh bagian bak, baik bagian dalam maupun luar, telah kubersihkan. Dengan mudah, pasir-pasir dan bercak tipis kotorannya menghilang. Namun, sekuat apapun aku menyikat, kerak-kerak yang menempel, tak kunjung memudar. Bahkan, kini keraknya jauh lebih tebal dari sebelumnya. Pastinya, karena sudah terlalu lama tak dibersihkan.
Hal tersebut mengingatkanku pada diriku sendiri. Sudah lama aku menyimpan kebencian pada ayahku yang meninggalkan aku, adik, dan ibuku tanpa kabar selama sembilan tahun. Tanpa kusadari, kebencian itu telah mengerak di dalam hatiku. Semakin lama semakin menebal.
Setelah lebih dari 30 menit berada di dalam kamar mandi, akhirnya aku menghirup udara segar. Aku menyerah menghadapi kerak-kerak itu. Segera kubertolak ke kamar untuk merebahkan badan. Dalam perjalanan menuju kamar, aku mendengar Lina bercakap-cakap dengan seseorang melalui telepon. Kutebak, itu pasti Ayah.
Dua tahun terakhir ini, sehari sebelum hari raya, Ayah selalu menghubungi kami, menanyakan kabar serta berharap dapat bertemu dengan kami pada hari raya. Namun, selalu kutolak permintaannya. Kukatakan pula pada Lina, jika Ayah menghubungi lagi, langsung saja putuskan sambungan teleponnya.
Lina terlihat pucat saat melihatku mendekat ke arahnya. Kuambil alih gagang telepon darinya. Ia terlihat cemas.
"Assalamu'alaikum, Ayah. Bagaimana kabar Ayah? Kami rindu sekali pada Ayah." Mataku berkaca-kaca setelah berkata demikian.
Aku sudah lelah memikul dendam. Di hari yang fitri, ingin kubersihkan diri ini dari kerak-kerak kebencian yang selama ini memenuhi hatiku.
Selamat Hari Raya Idul Fitri.
Mohon maaf lahir dan batin.
Bekasi
9 Juli 2016 / 4 Syawal 1437 H