Friday, June 17, 2016

KEFIR I'm in Love



Orang awam seperti saya hanya tau kalau kefir itu adalah susu fermentasi seperti yogurt. Karena sangat suka sekali dengan yogurt, saya penasaran dan mencoba kefir. Akhirnya, pada tanggal 18 Mei 2016, saya memutuskan untuk memesan susu kefir beserta bibitnya di suatu toko online. Pertama kali membuka botol kefir, aroma kefir langsung menyapa saya. Aromanya unik, samar-samar seperti bau tape, namun lebih kuat dan menyengat. Kejutan berikutnya datang dari rasanya. Lebih asam dari yogurt. Saat itu saya tidak yakin dapat meminum minuman yang berasal Rusia ini begitu saja. Minimal harus ditambah madu lah, begitu pikir saya.

Kali kedua saya meminum kefir, saya campurkan buah pear dengan cara di-blender tanpa pemanis sama sekali. "Enak!" sorak saya dalam hati. Rasa asam khas kefir tetap terasa, namun tidak terlalu kuat. Ditambah sari buah pear yang manis dan segar, hmm nikmat! Namun, lama kelamaan akhirnya saya terbiasa minum kefir tanpa tambahan apapun. Sejak saat itu, saya jadi jatuh cinta pada minuman yang merupakan hasil fermentasi susu dengan bibit kefir ini.

Saya mencoba menawarkan minuman probiotik ini kepada ibu saya yang memang memiliki penyakit maag. Saat itu saya tidak yakin Ibu akan menyukainya. Namun, di luar dugaan, beliau malah ketagihan. Tak hanya ibu, tante saya yang juga memiliki masalah pencernaan pun ketagihan kefir. Awalnya tante saya ragu, karena tidak kuat dengan minuman atau makanan asam. Namun, setelah saya beri tahu manfaat dan khasiat kefir, beliau langsung memberanikan diri meminumnya, namun dengan tambahan sedikit air mineral.

Beberapa orang mengalami efek detoks setelah minum kefir. Efek detoks yang dialami oleh ibu saya berupa diare selama 1-2 hari, setelahnya normal kembali. Tante saya tidak mengalami keluhan apa-apa. Namun menurutnya, setelah minum kefir, kotorannya terlihat padat tidak seperti biasanya. Sedangkan efek yang terjadi pada saya, perut terasa panas sebentar. Namun, saat saya meminum kefir di saat perut kosong, justru perasaan panas itu tak terlalu saya rasakan.

Kefir memang bukan obat, namun merupakan pangan probiotik yang mengandung banyak sekali bakteri baik. Meskipun bukan obat, namun dengan izin Allah disertai doa dan ikhtiar meminum kefir, sudah banyak orang yang membaik dari sakitnya. Semoga ibu dan tante saya pun dapat segera sembuh dari sakit yang mereka derita selama bertahun-tahun.

Walaupun bagus untuk kesehatan, namun tak semua orang mau meminum kefir. Alasan klisenya adalah karena aroma dan rasanya yang kecut. Kalau dipikir-pikir, makanan atau minuman enak hanya terasa nikmat saat di mulut saja. Jika sudah masuk tenggorokan, kita tak bisa lagi merasakan kenikmatannya. Namun, makanan atau minuman sehat, mungkin saja bagi kita tak enak di mulut, namun manfaatnya bisa dirasakan ketika ia berada di dalam tubuh kita.

Untuk menyiasati rasa kefir yang asam, dapat ditambahkan buah seperti yang saya lakukan di awal-awal konsumsi kefir. Jenis buah dan takarannya disesuaikan dengan selera masing-masing. Jika dirasa kurang manis, dapat pula ditambahkan pemanis alami seperti madu.

Semoga bermanfaat ^_^



Susu kefir murni tanpa tambahan buah ataupun pemanis.


No comments:

Post a Comment